Ujian Nasional (UN) sebenarnya bertujuan positif yaitu untuk meningkatkan mutu pendidikan. Tetapi, kenyataan di lapangan sangatlah jauh berbeda. Peningkatan mutu pendidikan yang diinginkan sejauh ini belum berhasil diraih.
Kesalahan mendasar yang dilakukan pemerintah dengan UN-nya adalah digunakannya hasil UN sebagai penentu kelulusan peserta didik dari jenjang pendidikan yang diikutinya.
Pastinya semua siswa ingin lulus. Pemerintah berasumsi siswa akan belajar keras agar lulus ujian. Faktanya tidaklah demikian. Ternyata tidak semua siswa belajar. Mereka yang tidak mau belajar atau belajarnya kurang atau tidak serius ini pada saat ujian tentunya memiliki kecenderungan untuk berbuat curang pada saat ujian. Para siswa tersebut tentu akan kasak-kusuk mencari bocoran jawaban soal UN sebelum memasuki ruang ujian. Berapa pun rela mereka bayar asalkan mendapatkan kunci yang cocok.
Oknum Guru di beberapa sekolah ternyata tidak mau kalah dengan siswanya. Mereka secara sadar membocorkan jawaban soal UN kepada siswanya . Dengan melakukan kecurangan tersebut para guru merasa telah menolong masa depan siswa dari kehancuran.
Penambahan paket soal UN menjadi lima (5), sedikit banyak mengurangi tindakan kecurangan, meskipun tidak menghilangkannya sama sekali. Pada saat UN berlangsung masih ada saja siswa yang berbuat curang.
Tindakan curang yang dilakukan sebagian siswa tersebut agak mengherankan. Pasalnya, mereka telah dibekali nilai sekolah plus nilai rapor yang tinggi yang akan digabung dengan nilai UN dengan bobot 40:60. Berdasarkan data yang masuk ke Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) nilai siswa jenjang SMA sederajat didominasi nilai 8 – 9 sebesar 58,66 persen dan nilai 7 – 8 sebesar 38,54 persen (Harian Kompas edisi 16 April 2011).
Melihat data tersebut, pola kecurangan UN tahun 2011 ini sedikit berubah dibandingkan dengan UN tahun-tahun sebelumnya, yaitu dengan memberikan nilai ‘palsu’ kepada siswa.
Melihat kenyataan tersebut tidak sedikit siswa, orang tua siswa, guru, kepala sekolah dan masyarakat peduli pendidikan yang menginginkan UN tahun 2011 ini menjadi UN yang terakhir. PGRI sebagai organisasi yang menaungi guru pun memiliki suara yang sama seperti disampaikan oleh M. Abdul Zen, Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan PGRI di Jakarta, Senin, 18 April 2011 seperti dikutip dari Kompas. Com. Selamat tinggal UN, selamat datang ujian yang menyenangkan yang bebas dari segala kecurangan.
Selamat Tinggal UN
Mei 4, 2011 oleh Sandy Guswan