Wanita adalah makhluk agung ciptaan Allah SWT yang diberikan kedudukan yang setara dan sejajar dengan pria disesuaikan dengan kodrat mulianya yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta.
Dalam Agama Islam kedudukan wanita demikian mulianya. Ibu yang merupakan perwakilan seorang wanita adalah sebuah contohnya. Seorang anak harus menghormati ibunya terlebih dahulu baru kemudian ayahnya. Kedudukan ibu yang begitu tinggi tersebut adalah merupakan hal yang sangat wajar mengingat ibulah yang mengandung dan membesarkan anak dengan darah dan air mata.
Peran wanita yang sangat mulia dinodai oleh pihak-pihak tertentu yang begitu kerasnya menyuarakan emansipasi wanita dan kesetaraan gender yang condong terlalu berlebihan dan menentang kodrat penciptaan wanita yang telah diatur dalam ajaran agama.
Wanita yang katanya dulu selalu dijajah pria di zaman sekarang telah berubah menjadi sosok yang begitu kuat dan mandiri. Bukanlah hal yang aneh bila sekarang seorang wanita berani menggugat cerai suaminya. Keberanian ini didukung oleh kekuatan finansial si wanita yang memiliki karir baik bahkan cemerlang.
Wanita yang memiliki karir dan pendapatan melibihi suaminya tidak jarang menjadi awal kehancuran sebuah rumah tangga. Dengan karir cemerlangnya sang istri menganggap remeh sang suami. Padalah kita ketahui bersama bahwa bagaimanapun suami tetaplah pemimpin di dalam rumah tangga. Sepanjang sang suami tetap menjalankan ajaran agama sang istri wajib mengikutinya.
Pelecehan istri-istri kepada para suaminya digambarkan dengan sangat jelas dalam komedi situasi di sebuah televisi swasta di Indonesia yang berjudul Suami-Suami Takui Istri (SSTI). Di balut dalam kemasan komedi serial ini mendapat tanggapan yang bagus (baca: banyak ditonton dan menyedot banyak pemasukan dari iklan). Tidak ada nilai pendidikan yang baik dari serial ini. Kalaupun ada nilai kebaikannya, nilai keburukannya terlalu banyak yang menutupi misi yang ingin disampaikan.
Serial SSTI kemungkinan besar ingin menyindir dominasi kaum Adam terhadap kaum Hawa. Protes tersebut dapat terlihat dengan jelas dengan begitu takutnya para suami terhadap hukuman fisik yang dilakukan para istri ketika para suami melakukan kesalahan (terutama sekali ketika mencoba melirik wanita lain atau mencoba untuk berselingkuh). Di dalam kenyataan, kekerasan fisik seperti digambarkan di serial tersebut dilakukan oleh kaum pria terhadap istri-istri mereka.
Ketidakberdayaan para suami ini ternyata dapat menjadi tontonan keluarga yang mengasyikkan. Padahal di balik semua itu ada nilai pendidikan yang tidak baik dan dapat menjadi sangat menyesatkan bagi kaum Hawa. Wanita sebagai sosok mulia yang ketika menjadi istri sudah seharusnya hormat dan patuh kepada suaminya sepanjang sang suami patuh dan taat kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Q.S an-Nisa’ [4] : 34-35 yang artinya: Laki-laki (suami) itu adalah pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka telah memberikan nafkah dan hartanya. Maka perempuan-perempuan yang sholih adalah yang ta’at (kepada Allah) lagi menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuz hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Alloh Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimkanlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufiq kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.
Cerita-cerita di sinetron terkadang diambil atau terinspirasi dari kehidupan nyata, tapi bisa juga merupakan rekayasa atau imajinasi penulis naskahnya semata. Lalu bagaimanakah kelakuan para istri terhadap suami-suami mereka di dunia nyata, apakah sama dengan yang digambarkan di sinetron-sinetron?
Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah merubah banyak hal termasuk merubah sikap dan perilaku manusia. Melalui media massa baik cetak dan elektronik wanita mendapatkan bermacam informasi. Sayangnya tidak semua informasi tersebut bernilai positif. Tanpa adanya filter yang baik maka akan berdampak sangat buruk.
Di kehidupan nyata sering kita jumpai para istri yang membicarakan kelemahan dan keburukan (aib) suaminya di muka umum. Mereka mungkin lupa bahwa keburukan dan kelemahan suami adalah keburukan dan kelemahan mereka juga. Padahal menurut al Qur’an suami dan istri bagaikan pakaian satu sama lain. Fungsi pakaian adalah menutup aurat dan menjaga harga diri manusia, maka suami istri juga harus saling menutupi aib dan menjaga harga diri pasangannya.
Nilai-nilai atau budaya Barat begitu gampangnya masuk ke dalam rumah menggantikan ajaran agama yang semakin lama semakin terpinggirkan saja. Adalah tugas kita semua memberikan pelajaran dan pendidikan agama yang baik terutama kepada kaum Hawa yang merupakan tiang agama yang menentukan baik atau burukkah generasi muda kita nantinya.
Semoga kita tidak akan menemukan lagi istri-istri yang berani melawan kepada para suaminya dengan alasan yang tidak dibenarkan oleh agama. Kita tidak memerlukan wanita-wanita yang berani melawan suami-suami mereka. Yang kita perlukan adalah wanita atau istri yang berani berkorban jiwa raga demi kehormatan keluarga dan agama.
Mantap…. kapan … Merit..Niih..