Kekerasan yang terjadi di berbagai jenjang pendidikan di Indonesia menampar insan pendidik dan dunia pendidikan secara umum. Dengan kecanggihan teknologi dan informasi kejadian kekerasan tersebut dapat kita lihat secara langsung bersama-sama melalui layar televisi. Menjadi pertanyaan besar ada apa di balik semakin seringnya tindak kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan kita.
Guru sebagai aktor utama dalam dunia pendidikan menghadapi tantangan yang besar dalam menjalankan profesi mulianya. Peran guru diharapkan tidak hanya sebagai tenaga pengajar tetapi juga sebagai tenaga pendidik. Oleh karena itu, seorang guru tidak hanya orang yang pintar secara akademis (menguasai bidang studi yang akan diajarkannya) tetapi juga pintar secara emosional dan spiritual.
Melihat kenyataan masih ada oknum guru yang menggunakan kekerasan dalam proses belajar mengajar menandakan bahwa ada yang salah dalam sistem rekrutmen guru.
Seperti kita ketahui bersama untuk menjadi guru (PNS) seseorang lulusan LPTK ikut ujian seleksi CPNS. Ujian ini (hanya) berupa ujian secara tertulis. Untuk mendapatkan guru yang pintar IQ, EQ dan SQ ujian tertulis model seleksi CPNS tersebut tentu saja tidak cukup. Orang yang memiliki masalah dalam mental (mudah emosional, tidak dapa mengendalikan diri dll) bisa saja lulus seleksi dan menjadi guru. Mereka ini yang kelak akan mencemarkan dunia pendidikan dengan menggunakan kekerasan dalam proses belajar mengajar di kelas.
Adalah lebih baik dalam proses seleksi guru (PNS) mendatang melibatkan lembaga psikologi yang terpercaya. Dengan demikian, guru yang akhirnya lulus seleksi adalah orang yang benar-benar ingin mengabdi sebagai pengajar dan pendidik dan tidak akan menggunakan tindak kekerasan dalam proses belajar mengajar.
Mulailah dr perekrutan PNS yg profesional, khususnya di daerah, bukan berdasarkan rasa kasian dan sukuisme !
he…he.. di sekolah saya penerimaan murid aja udah melibatkan psikolog anak.
kalo penerimaan CPNS psikolog apa ya?
Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, game online & kamus online untuk para netter Indonesia. Salam!
http://pendidikan.infogue.com/perbaiki_sistem_rekrutmen_guru
begitulah rekrutmen guru di negara tercinta ini . apa mereka tidak malu ya sama negara tetangga….
setuju, sistem rekruitmen harus lebih baik lgi
Tiga puluh lima tahun yang lalu saja saya ingin menjadi guru, masuk SPG dites kesehatan jasmani rohani dengan tes fisik termasuk tinggi dan berat badan dan psikotes yang sangat ketat. Saat ini maju apa mundur ya Om, kalau mulai era reformasi hingga sekarang yang katanya zaman supermodern dan serbacanggih ini sistem rekrutmen guru jangankan dengan psikotes, kesehatan fisik saja tak dilihat. Akibat dari itu dampak yang mewabah antara lain: guru yang selalu menjadi cibiran siswa karena kondisi kisik dan perangainya kurang pas, yang selalu menjadikan siswa sebagai pelampiasan emosi jika datang waktu kambuhnya, yang mau masuk hanya melaksanakan tugas sesuai pembagian jam mengajar saja, bahkan yang menjadikan profesi guru sebagai mesin pencetak uang tanpa sedikitpun punya rasa kasih sayang kepada siswa, sehingga apriori terhadap keberhasilan pendidikan dan mutunya, dan lain-lain justru lolos terekrut menjadi PNS bahkan juga menikmati sertifikasi?
Semoga saja ngrumpi kita ini didengar oleh mereka yang ingin jadi guru, agar tahu diri bahwa guru bukan pekerjaan biasa yang bisa dilaksanakan oleh semua orang pinter. Juga para institusi yang mencetak tenaga guru dan rekrutmen tenaga guru supaya menengok keberhasilan masa lalu, mengapa dulu saja ada tes fisik dan psikis kok sekarang tidak. Thank
bagaimanapun sistem rekrutmennya kalao masih bisa maen belakang juga ga ada gunanya….. hanya analisis-teoritis belaka…… yang terpenting kinerja petinggi pemerintahan yang tidak hanya mementingkan material……tetapi lebih pada kepedulian akan mutu pendidikan ke depannya…..