Bahasa Inggris tidak terbantahkan adalah bahasa paling penting di dunia. Jumlah penuturnya tersebar di seluruh penjuru dunia baik sebagai bahasa pertama (first language), bahasa kedua (second language) atau bahasa asing (foreign language). Di Indonesia sendiri bahasa Inggris kedudukan dan fungsinya adalah sebagai bahasa asing. Bahasa Inggris merupakan bahasa asing terpenting; jauh di atas bahasa-bahasa asing lainnya yang juga dipelajari di Indonesia. Bidang studi bahasa Inggris sudah diajarkan mulai sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) dan sederajat. Bahkan belakangan bahasa Inggris pun sudah mulai dikenalkan kepada murid tingkat sekolah dasar (SD). Mengingat sangat pentingnya bahasa Inggris, maka pemerintah (departemen pendidikan nasional) merasa perlu memasukkan bidang studi bahasa Inggris menjadi salah satu bidang studi yang di-ujian-nasional-kan pada tingkat SLTP dan SLTA sederajat.
Tujuan pembelajaran bahasa Inggris secara umum adalah agar peserta didik dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dengan lancar; baik secara lisan maupun tulisan. Yang termasuk dalam kelompok bahasa lisan adalah menyimak (listening) dan berbicara (speaking) sedangkan untuk bahasa tulisan adalah membaca (reading) dan menulis (writing).
Meskipun kedudukan bahasa Inggris di Indonesia hanya sebagai bahasa asing dan bukan sebagai bahasa kedua atau bahkan bahasa pertama, kita layak berbangga sudah banyak siswa kita yang lancar berbahasa Inggris. Ini merupakan salah satu indikator bahwa pengajaran bahasa Inggris di Indonesia cukup berhasil. Kemampuan berbahasa Inggris yang baik dan lancar dari siswa-siswi tersebut dapat dilihat antara lain di acara debat, pidato, dan membaca puisi dalam bahasa Inggris yang belakangan ini semakin sering diadakan. Boleh dikatakan mereka sangat fasih berbahasa Inggris.
Dikembangkannya Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional (RSBI) adalah sebuah bukti lain betapa pentingnya bahasa Inggris. Diharapkan para siswa yang bersekolah di RSBI apabila menginginkan melanjutkan pendidikan di luar negeri (terutama di negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama) tidak akan mengalami kesulitan dalam proses belajar karena sudah terbiasa belajar dengan menggunakan bahasa pengantar dalam bahasa Inggris serta kurikulum yang diadopsi dari negara tersebut.
Penguasaan bahasa Inggris sungguh berdampak sangat positif. Dengan semakin banyak orang yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris, maka akan semakin cepat pula proses transfer ilmu pengetahuan, karena banyak buku yang ditulis dalam bahasa Inggris.
Sebagai bangsa Indonesia yang mempunyai bahasa persatuan yakni bahasa Indonesia, jangan sampai menomorsatukan bahasa Inggris. Kita harus ingat bahwa kedudukan dan fungsi bahasa Inggris di Indonesia hanyalah sebagai bahasa asing. Salah satu wujud kecintaan kita kepada bangsa dan negara adalah kebanggaan dan kecintaan kita terhadap bahasa Indonesia. Itu kita buktikan dengan menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Ketika berbicara (terutama di forum dan acara resmi) tidak mencampuradukkan dengan bahasa asing (bahasa Inggris).
Berkomunikasi (secara fasih) dalam bahasa Inggris tidak dilarang dan boleh-boleh saja. Asal kita cerdas dan cermat melihat situasi dan kondisi (sikon). Apabila kita berbicara di depan orang Indonesia dan tidak ada hubungannya dengan pengajaran bahasa Inggris, maka alangkah baiknya kita berbicara dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tidak mencampuradukkannya dengan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.
Kita patut bersedih melihat tokoh masyarakat (pejabat dan selebritas) yang ketika berbicara di depan umum menggunakan bahasa Indonesia gado-gado. Ia tidak jarang menggunakan istilah asing walaupun sebenarnya ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Mungkin tokoh tersebut ingin dikatakan sebagai seorang yang terpelajar dan terdidik ketika menggunakan istilah-istilah asing. Pendengarnya pun terkadang bingung apa arti ungkapannya. Lebih jauh lagi dengan mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, tokoh tersebut secara tidak langsung akan mematikan bahasa Indonesia, bahasa persatuan kita.
Masyarakat akhirnya juga ikut-ikutan berbahasa Indonesia yang tidak baik dan benar. Banyak istilah asing yang sering kita dengar (padahal kita berada di Indonesia) antara lain: missed call (panggilan terabai), short message service-sms (pesan singkat), low-battery-low bat (baterai lemah), mid-test (ujian tengah semester) , dan final test (ujian akhir semester). Baik tokoh masyarakat dan masyarakat tidak merasa ganjil atau aneh ketika menggunakan istilah atau ungkapan asing tersebut. Mereka malah bangga menggunakannya. Tokoh masyarakat yang menjadi contoh dan panutan masyarakat dalam berbahasa adalah sangat baik agar berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau ada istilah asing yang sudah dibakukan alangkah baiknya agar digunakan dalam komunikasi sehari-hari.
Peran media massa cetak dan elektronik sangat besar dalam menumbuhkan kecintaan dan kebanggan berbahasa Indonesia. Pasalnya, apa yang ditulis dan disampaikan melalui media biasanya akan dijadikan rujukan dan digunakan oleh masyarakat. Oleh karena itu, media harus berhati-hati dalam penggunaan bahasanya. Media juga harus menjadi pionir dalam penggunaan istilah-istilah yang sudah dibakukan. Masalahnya tidak sedikit media massa yang belum menggunakan istilah-istilah yang sudah dibakukan.
Ada banyak kata asing yang sudah dibakukan padanan katanya ke dalam bahasa Indonesia. Untuk mereka yang bergelut di bidang teknologi informasi komputer sudah tidak asing lagi dengan istilah download dan upload yang padanan bahasa Indonesianya adalah unduh dan unggah, mouse yang padanan bahasa Indonesianya tetikus, browsing (ramban/jelajah). Contoh lainnya adalah kata effective dan efficient, banyak orang mengindonesiakannya menjadi efektif dan efisien padahal ada padanan katanya yang lebih berwarna Indonesia yaitu sangkil dan mangkus. Masih sangat jarang yang menggunakan padanan bahasa Indonesianya.
Untuk ke depannya, pembelajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah Indonesia agar terus dilanjutkan dan ditingkatkan kualitasnya. Menjadi harapan kita semua, siswa-siswi dapat berbahasa Inggris secara lancar, baik lisan dan tulisan. Hanya saja harus diingatkan kepada peserta didik untuk selalu bangga dan cinta menggunakan bahasa Indonesia. Siapa lagi yang bangga dan cinta kepada bahasa Indonesia kalau bukan kita sebagai bangsa Indonesia.
Setuju sekali pak sandy.
Setuju…akur…