Aktifitas menulis bagi masyarakat kita tergolong masih minim sejalan dengan budaya baca yang masih kurang. Budaya menonton dan bicara lebih mendominasi. Sebagai bukti televisi sebagai media sangat diminati oleh masyarakat. Beragam acara yang disuguhkan oleh pihak stasiun televisi mulai dari sinetron, film, olah raga, berita, talk show mendapatkan rating yang bagus yang mengindikasikan banyak yang menonton. Di lain pihak budaya baca dan tulis masih sangat jauh ketinggalan. Sebagai bukti terakhir adalah dalam Ujian Nasional (UN) nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia masih kalah dengan Matematika. Untuk Bahasa Indonesia tidak ada yang mendapatkan nilai sempurna berbeda dengan Matematika. Mata ujian Bahasa Indonesia yang banyak mengujikan keteramapilan membaca rupanya masih menjadi momok bagi sebagian besar siswa di Indonesia.
Di tengah keprihatinan kita akan masih tertinggalnya budaya baca-tulis dibandingkan dengan budaya bicara-menonton kita tentu saja masih menaruh harapan akan lebih berkembangnya budaya baca-tulis ini. Salah satunya melalui media blog. Ini merupakan pekerjaan rumah bagi kita semua untuk mendorong siswa untuk membuat blog dan tentunya mengisinya dengan tulisan secara rutin.
Menulis sendiri sebenarnya banyak mendatangkan manfaat bagi pihak yang menggelutinya. Walaupun kita tidak pernah meniatkan menulis untuk mendapatkan imbalan pada mulanya. Bagi para penulis itu merupakan sesuatu yang layak mereka peroleh atas karya yang mereka hasilkan. Kita tentu mengenal banyak nama penulis yang karyanya melejit baik untuk skala Indonesia maupun skala dunia.
Sayangnya untuk media massa lokal yang ada di daerah kalsel masih belum memberikan apresiasi yang sesuai. Untuk media yang katanya terbesar di daerah ini masih belum dapat memberikan imbalan yang cukup layak untuk sebuah karya opini. Media lain bahkan belum dapat memberikan imbalan apa pun. Banyak penulis mungkin tidak mengharapkan untuk mendapatkan imbalan atas karya mereka. mereka mungkin cukup merasa senang karena karyanya terbit di media massa. Rasa bangga ini cukup. Namun demikian pihak media massa semestinya menghargai karya ini secara baik. Karena hasil karya tulisan yang antara lain berupa opini, artikel dan sebagainya ini tidak dapat dilahirkan atau diciptakan begitu saja. Penulisnya tentu orang yang suka atau gemar membaca baik koran maupun di internet, dan ini tentu saja memerlukan dana. Jadi wajar mereka mendapatkan imbalan yang lebih layak atas karya mereka. Kurangnya penghargaan ini juga mungkin menjadi penghambat minimnya orang untuk menulis. Kita tidak bisa munafik bahwa kita perlu uang walaupun uang bukanlah di atas segala-galanya.
waduh!!!jadi malu….yah juga sih kita ini lebih senang menonton dan BICARA,dari pada membaca padahal dengan membaca banyak banget informasi yang kita dapet….sedih deh!!kemauan membaca kita di kalahkan dengan menonton tv atau sejenisnya yang sayah rasa kurang banyak manfaatnya…
terus berjuang pak guru!!
Ulun pingin banar nulis gasan koran, tapi kada pede balum mangirimnya…
Imbalannya dikit banarkah?
ttg kreativitas menulis, saya selalu ingat2 kata2 lan fang, mas sandy. “kalau ingin melihat dunia, membacalah, dan kalau ingin dilihat dunia, menulislah”. ungkapan yang tepat utk menunjukkan bukti betapa pentingnya aktivitas menulis utk menunjukkan eksistensi dan aktualisasi diri. nah, peran media sebenarnya sangat besar utk memcau kreativitas penulis. tapi, kok measih demikiran rendah apresiasi media kalsel terhadap penulis, yak? di jateng, sebuah opini yang dimuat di koran, sudah dihargai sekitar Rp300 ribu-Rp400 ribu.
Matematika VS Bhs Ind, matematika itu Selalu Pasti dan terkesan monoton, Kalo bahasa ngga’ boleh hanya monoton eh salah,maksudnya menonton, jadi, setuju baca-tulis.
biar ngga’ monoton.
Soal imbalan, nanti juga ada yang ngasih, sante aja mas.
Take ‘n give gitu lho.
kayaknya realitasnya seperti itu, tapi kalau motivasi kita “menulis=uang” kapan kita bisa menulis dengan “ikhlas hanya untuk menulis”?. Menulis untuk dakwah, menulis untuk kepuasan jiwa, menulis untuk pencerahan, menulis untuk motivasi diri. Materi (uang) itu hak atas “karya intelektualitas” itu, kalau pun jumlahnya tak seberapa, mari syukuri sambil berharap “lebihnya”. Hehe. Salam
menulis membuat kita reflexion-in-action. *weleh*
maksudnya, selama proses menulis kita jadi harus selalu penuh pemikiran, mindfulness.
sebab semuanya tercatat hitam di atas putih.
kalau kalimat verbal kan orang bisa lupa.
makanya kalau ngomong kita suka gak mikir akibatnya.
jadinya asbun.
Bagi rekan-rekan yang biasa tulis menulis,
di internet, tulisan apapun yang penting bisa memberikan solusi
bagi masalah tertentu, bisa mudah menghasilkan uang bukan?
so… manfaatkan kebiasaan dan hobi itu
rahasianya? klik saja link ini, http://www.g-website.com/?id=sugi