Feeds:
Pos
Komentar

(Artikel ditulis dalam rangka lomba penulisan untuk Guru yang diadakan PWI Kal-Sel dan Alhamdulillah menjadi Runner Up)

Berbicara tentang dunia pendidikan di banua, sepertinya kita patut merenung. Pasalnya jika dibandingkan dengan daerah lain di Jawa dan Sumatera, mutu lulusan sekolah menengah kita kurang dapat bersaing di tingkat nasional. Salah satu indikatornya adalah sedikit sekali lulusan sekolah banua yang dapat masuk universitas ternama di pulau Jawa. Apalagi kalau mau berbicara lulusan banua yang kuliah di universitas top luar negeri.

Masalah rendahnya mutu pendidikan banua ini merupakan tanggung jawab kita semua, baik pemerintah daerah, guru, maupun masyarakat. Semua elemen harus dapat memerankan fungsi dan peranan masing-masing agar mutu pendidikan banua dapat bersaing di tingkat nasional bahkan di tingkat internasional.

Lanjut Baca »

Di MAN 3 Banjarmasin sudah ada ekskul yang mewadahi siswa-siswi yang gemar dan ingin memperdalam bahasa Inggris. Namanya English Club MAN 3 Banjarmasin.
Mengapa namanya English Club, bukan English Conversation Club atau English Debate Club dsb? Karena di English Club semua kegiatan yang berwarna English ada. Ada english speech, english writing, english scrabble, english quiz, english singing contest, english poetry recital contest, english spelling contest dan lainnya.
English Club terinspirasi dari seorang siswi MAN 3 kelas XI IPA 2 bernama Sarinah. Semangatnya dalam pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler termasuk pelajaran bahasa Inggris dan lomba bahasa Inggris adalah awal dibentuknya English Club. Dengan semangatnya Sarinah ‘hunting’ ke kelas-kelas mencari siswa-siswi yang berminat bergabung di English Club.
Tujuan dibentuknya English Club juga sebagai tempat berlatih untuk mengikuti persiapan lomba bahasa Inggris yang banyak diadakan. Diharapkan dengan berlatih secara teratur, maka siswa-siswi MAN 3 yang mewakili ikut lomba akan lebih memiliki kompetensi dan kepercayaan diri.

Belajar tata bahasa (grammar) bahasa Inggris terkadang membosankan bagi banyak siswa. Oleh karena itu, diperlukan satu kegiatan yang mampu membuat siswa senang dan bersemangat dalam belajar. Diantara banyak permainan (games) untuk kegiatan pembelajaran tata bahasa salah satunya bernama ‘Sentence Betting’. Permainan ini penulis dapatkan di website: http://www.funenglishgames.com.

 

Inti dari permainan ‘Sentence Betting’ ini adalah siswa menentukan apakah kalimat yang di sampaikan guru yang ditulis di papan tulis, benar atau salah menurut tata bahasa Inggris baku.

 

Berikut pengalaman penulis mempraktikkan ‘Sentence Betting’ di ruang kelas. Hari itu penulis mendapatkan tugas mengajar di kelas XI IPA 2 pada jam pelajaran terakhir. Penulis berencana me-review pelajaran tata bahasa yang telah dipelajari siswa dan sekaligus mencari tahu pengetahuan tata bahasa siswa dengan cara menyenangkan (fun), sehingga penulis memilih metode permainan dalam mengajar.

 

Siswa dibagi dalam sembilan kelompok yang masing-masing terdiri dari empat orang. Tiap kelompok mempersiapkan selembar kertas yang berisi data kelompok dan nama anggota. Penulis menjelaskan kepada siswa bahwa tugas mereka adalah menentukan apakah kalimat yang dituliskan di papan tulis adalah correct atau incorrect, benar atau salah secara tata bahasa Inggris.

 

Selanjutnya sesuai dengan nama permainan ini yaitu ada unsur betting-nya (unsur taruhannya), maka penulis memberikan masing-masing kelompok modal awal yaitu uang virtual sebesar 1.000.000. Setelah siswa menentukan benar atau salah kalimat yang ditulis, maka selanjutnya mereka mempertaruhkan uang virtual mereka. Jika jawaban mereka benar, maka uang mereka akan dilipatgandakan, sebaliknya jika jawaban mereka salah, maka semua uang yang mereka pertaruhkan akan hilang.

 

Permainan pun dimulai. Penulis menuliskan satu kalimat di papan tulis. Masing-masing kelompok berdiskusi untuk menentukan apakah kalimat yang ditulis itu benar atau salah secara tata bahasa. Setelah itu mereka pun menentukan nilai taruhan mereka.

 

Lucunya, pada tahap awal ini ada kelompok yang hanya berani mempertaruhkan 1.000. Ketika hasilnya diumumkan dan ternyata jawaban mereka benar, mereka terlihat menyesal mengapa hanya mempertaruhkan 1.000.

 

Permainan pun dilanjutkan dengan kalimat-kalimat lain. Di babak akhir permainan penulis menuliskan satu kalimat yang lumayan menantang. Terlihat tiap anggota kelompok asyik berdiskusi. Sebagian lainnya membuka kamus dan buku pelajaran mencari tahu tentang kalimat yang ditulis guru di papan tulis. Ini adalah babak akhir permainan, dan kelompok yang menang adalah yang memiliki uang virtual terbanyak. Oleh karena itu, masing-masing kelompok berfikir keras memikirkan strategi agar menjadi pemenang.

 

Di akhir permainan ternyata banyak kelompok yang jumlah uang virtualnya menjadi nol. Ini adalah akibat mereka mempertaruhkan semua uang virtual yang mereka miliki tetapi jawaban mereka ternyata salah. Tentu saja hal itu membuat uang taruhan mereka ludes.

Tetapi semua itu tentunya hanyalah sebuah permainan, kalah dan menang adalah hal biasa. Tidak lupa pula penulis mengingatkan siswa bahwa kegiatan bertaruh tidak baik, dan sentence betting ini dilakukan hanya demi alasan pembelajaran.

 

Ada banyak hal positif yang didapatkan melalui permainan ini. Siswa jadi bersemangat untuk memenangkan permainan ini, terlebih penulis menjanjikan memberikan bonus nilai bagi kelompok pemenang. Tanpa disuruh siswa membuka buku materi tata bahasa dan kamus agar dapat menjawab pertanyakan yang diajukan guru. Hal positif lain adalah terjadinya diskusi antar anggota kelompok tersebut. Dengan permainan ‘Sentence Betting’ siswa belajar tata bahasa dengan cara yang menyenangkan. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

 

Orang tua memiliki kesibukan dalam mencarikan sekolah untuk anaknya. Institusi pendidikan di sisi lain menawarkan dan mengklaim bahwa tempat merekalah yang terbaik untuk menimba ilmu.

Lanjut Baca »

Alhamdulillah, akhirnya buku berupa kumpulan tulisan bertemakan pendidikan pada kolom opini koran lokal di Banjarmasin Kalimantan Selatan dapat diterbitkan.

Lanjut Baca »

Membela Siswa Curang

Pemerintah mengklaim pelaksanaan UN tingkat SMA/SMK/MA bebas dari kebocoran soal dan minim jumlah pelanggaran. Memang pemerintah mengakui masih ada sedikit kecurangan, tetapi tidak mengganggu pelaksanaan UN secara keseluruhan.

 

Lanjut Baca »

Kata ‘ujian’ kemungkinan besar terdengar angker dan menakutkan bagi banyak siswa. Terlebih lagi bila ada embel-embel kata ‘nasional’ yang mengikutinya.

Akibat dari ketakutan yang berlebihan ketika ujian tersebut, siswa yang dikategorikan pandai pun mungkin akan lupa mengenai materi yang sudah dikuasainya. Semua karena ujian dinilai sebagai momok yang membebani.

Lanjut Baca »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.